Industri Masa Depan Mobil Listrik Pertama di Malut, Pemprov Ingatkan Kesejahteraan Masyarakat

redaksiindonesiatimur_redaksi | June 26, 2020 | 0 | Ekonomi , Pertambangan

PT. Harita Nickel yang beroperasi di Kawasi, Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) Provinsi Maluku Utara (Malut) saat ini sedang membangun pabrik bahan baku baterai mobil listrik.

Industri masa depan mobil listrik pertama di wilayah Malut ini akan berproduksi pada akhir 2020 ini dan sekarang sedang memasuki tahap konstruksi akhir.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Malut, Nirwan MT Ali saat dikonfirmasi RRI, Kamis (18/6/2020) mengatakan, rencana PT.Harita untuk membuat pabrik bahan baku baterai mobil listrik tentunya sangat direspon baik oleh pemerintah Provinsi.

Karena menurutnya, industri yang akan berdiri di Malut ini merupakan yang pertama kali di Indonesia dan ini menjadi kebanggan tersendiri bagi Malut sebagai daerah yang aman dan nyaman untuk investasi.

“Industri ini tergolong baru dengan teknologi mutakhir. Di Indonesia pertama kali ada ya di Malut nantinya, Kita harapkan industri ini bisa berproduksi pada akhir 2020. Industri ini akan mengolah nikel kadar rendah menjadi bahan baku baterai mobil listrik, yakni nikel sulfat dan kobalt sulfat. Mobil listrik sendiri lebih ramah lingkungan dibandingkan transportasi dengan Bahan Bakar Minyak (BBM),” jelas Nirwan.

Nirwan menegaskan, dengan rencana tersebut gubernur selaku perwakilan pemerintah pusat yang ada di daerah tentunya sangat membuka pintu untuk investor agar melakukan investasi di wilayah Malut dengan tetap bersandar pada aturan yang telah ditetapkan, kesejahteraan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat lokal.

“Jangan sampai orang mengatakan bahwa perusahan di Malut tetapi angka pengangguran juga masih banyak, dan ini yang tidak diharapkan pak gubernur,” katanya.

Nirwan bilang, Harita telah memiliki smelter dan telah beroperasi sejak 2016 sebagai dukungan untuk hilirisasi industri pertambangan. Lebih dari itu, industri pengolahan dan pemurnian dengan teknologi yang mutakhir-pun sedang dibangun saat ini. Mereka berpikir, hilirisasi harus lebih ditingkatkan dan memberi nilai tambah yang lebih tinggi. “Salah satunya membangun pabrik pengolahan dan pemurnian nikel dengan proses hydrometallurgy yang ramah lingkungan atau green project karena pemakaian energi listriknya rendah. Hasilnya, bahan baku utama dari katoda baterai mobil listrik,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM), Hasyim Daeng Barang dalam kesempatan yang sama mengatakan, teknologi pengolahan dan pemurnian mineral dengan proses hidrometalurgi akan sangat menguntungkan dalam konservasi sumber daya alam, khususnya nikel. 

Selama ini kata Kadis ESDM Malut, smelter yang ada di Indonesia menyerap atau menggunakan nikel kadar tinggi atau kadar 1,7 ke atas, sedangkan proses hidrometalurgi yang dikembangkan oleh Harita di Obi, menggunakan nikel kadar rendah atau di bawah 1,7.

“Technology High Pressure Acid Leach (HPAL) yang sedang dibangun oleh Harita melalui PT Halmahera Persada Lygend (HPAL) akan meningkatkan nilai tambah nikel. Nikel kadar rendah yang selama ini terbuang atau tidak terpakai, akan memiliki nilai ekonomis sebagai bahan baku dari pabrik pengolahan dan pemurnian baru ini,” akunya.

Hasyim juga bilang, konservasi mineral akan semakin baik dan memperpanjang umur tambang, karena secara singkat, teknologi yang ramah lingkungan akan mengolah bahan tidak terpakai menjadi bahan baku baterai listrik yang bernilai tinggi ke depannya. 

“Cadangan nIkel kadar rendah sangat banyak di Indonesia termasuk di Malut. Ini kesempatan besar buat Indonesia menjadi pemain dunia batu baterai mobil listrik”, jelasnya.

Pemerintah Provinsi Malut kata Hasyim, sangat menaruh harapan agar proses konstruksi industri maju ini dapat berjalan dengan lancar dan harus didukung oleh semua pihak. 

Karena lanjut dia, industri baru ini akan membutuhkan 1.920 orang tenaga kerja profesional, belum termasuk kontraktor dan industri pendukung lainnya. 

Selain itu kehadiran industri di Malut ini banyak dampak lanjutan, seperti putaran ekonomi yang akan memicu dan memacu penguatan ekonomi lokal serta usaha lainnya, dan dampak langsung seperti peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan penyerapan tenaga kerja.

“Dengan adanya industri ini, potensi Malut sebagai tujuan investasi semakin besar. Berbagai peluang usaha dari skala kecil sampai besar berpotensi akan tumbuh seiring dengan tumbuhnya investasi,” pungkasnya.

Sumber: rri.co.id

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Recent Comments

    Archives

    Categories