Sebentar Lagi Indonesia Memiliki Fasilitas Pemurnian Nikel untuk Kendaraan Listrik

redaksiindonesiatimur_redaksi | July 10, 2020 | 0 | Berita , Ekonomi , Nasional , Pertambangan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan Indonesia membutuhkan fasilitas pemurnian bijih nikel kadar rendah dengan teknologi hidrometalurgi guna mendukung percepatan industri mobil listrik.

Andri menjelaskan kalau teknologi hidrometalurgi High Pressure Acid Leaching (HPAL) itu berbeda dari pirometalurgi dalam proses pemurnian bijih nikel. Adapun pirometalurgi analogi sederhananya tanah dibakar sehingga menjadi logam karena tanahnya akan mengalami proses metalisasi dan menjadi logam.

Sedangkan dengan menggunakan teknologi Hidrometalurgi HPAL, bijih nikel kadar rendah dapat dimurnikan menjadi produk mixed hydroxide precipitate, nickel sulfat dan cobalt sulfat sebagai bahan baku precursor.

Berdasarkan kajian Kemenko Bidang Kemaritiman, 40 persen dari total biaya manufaktur mobil listrik adalah dari baterai. Baterai kendaraan listrik menggunakan tipe baterai lithium ion dengan bahan baku katodanya adalah nickel, cobalt, lithium, mangan, dan aluminium.

Menurut Andri fasilitas dengan teknologi Hidrometalurgi HPAL Ini belum ada di Indonesia sehingga hal itu yang menyebabkan Kementerian ESDM memberlakukan pelarangan ekspor nikel pada 2020 dan momentumnya dinilai pas dengan kebijakan pemerintah untuk mempercepat pembangunan industri kendaraan listrik di dalam negeri.

Rampung Akhir Tahun 2020

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai bahan baku terbaik di dunia untuk memproduksi baterai lithium ion, yaitu bijih nikel kadar rendah atau disebut limonite dengan kandungan nikel (0,8-1,5 persen) dan cobalt yang tinggi (0.07-0,2 persen).

Pabrik baterai untuk mobil listrik yang sedang dibangun di Indonesia diklaim bakal rampung pada akhir tahun ini atau awal 2021.

Industri yang sedang dibangun Harita Nickel itu, direncanakan mulai berproduksi pada akhir 2020. Pabrik ini diklaim sebagai yang pertama beroperasi di Indonesia, sehingga menjadi kebanggan tersendiri bagi daerah itu.

Pemanfaatan nikel kadar rendah menjadi bahan baku baterai menjadi prioritas sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis BateraI untuk Transportasi Jalan.

Sisi suplai Indonesia memiliki potensi yang besar dan dari sisi pemanfaatan saat ini berada pada momentum yang sangat tepat sehingga dapat melengkapi rantai suplai industri nikel yang berbasis sumber daya alam. Total kebutuhan bijih nikel kadar rendah pada 2021 akan mencapai 27 juta ton per tahun.

Sumber: Medcom

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Recent Comments

    Archives

    Categories