Nikel Menjadi Komponen Penting Untuk Indonesia Menjadi Produsen Global Kendaraan Listrik

redaksiindonesiatimur_redaksi | July 28, 2020 | 0 | Ekonomi , Nasional , Pertambangan

Saat ini di Maluku Utara (Malut) sedang dibangun industri nikel untuk bahan baku baterai mobil listrik. Pabrik bahan baku baterai mobil listrik tersebut sedang dibangun oleh Harita Nickel di Kawasi, Obi, Halmahera Selatan. Menurut rencana, industri masa depan ini akan berproduksi pada akhir 2020 ini dan sekarang sedang memasuki tahap konstruksi akhir. 

Maluku utara menjadi yang pertama di Indonesia nantinya, harapannya industri ini bisa berproduksi pada akhir 2020. Industri ini akan mengolah nikel kadar rendah menjadi bahan baku baterai mobil listrik, yakni nikel sulfat dan kobalt sulfat. Mobil listrik sendiri lebih ramah lingkungan dibandingkan transportasi dengan bahan bakar minyak (BBM).

Ada dua jalur proses untuk mengolah bijih nikel oksida yang lazim disebut laterit, yaitu pirometalurgi dan hidrometalurgi. Pirometalurgi digunakan untuk mengolah laterit jenis saprolit berkadar nikel tinggi (Ni≥1,8%) untuk memproduksi FeNi atau Ni matte. 

Hidrometalurgi digunakan untuk mengolah laterit kadar rendah (Ni<1,8%) yang saat ini sedang dibangun di tanah air. Dalam perkembangannya pirometalurgi digunakan untuk mengolah laterit kadar rendah menghasilkan NCPI/NPI (Nickel Contain Pig Iron/Nickel Pig Iron) di Tiongkok. 

Selanjutnya NCPI/NPI digunakan sendiri oleh Tiongkok sebagai pengganti FeNi untuk membuat besi-baja tahan karat. Bahan baku pembuatan NCPI/NPI Tiongkok diperoleh dari mengimpor laterit Filipina dan Indonesia. 

Harita Nickel yang memiliki komitmen awal untuk mewujudkan ini. Salah satunya membangun pabrik pengolahan dan pemurnian nikel dengan proses hydrometallurgy yang ramah lingkungan atau green project karena pemakaian energi listriknya rendah. Hasilnya, bahan baku utama dari katoda baterai mobil listrik.

Teknologi pengolahan dan pemurnian mineral dengan proses hidrometalurgi akan sangat menguntungkan dalam konservasi sumber daya alam, khususnya nikel. Selama ini, smelter yang ada di Indonesia menyerap atau menggunakan nikel kadar tinggi atau kadar 1,7 ke atas. Sedangkan proses hidrometalurgi yang dikembangkan oleh Harita di Obi, menggunakan nikel kadar rendah atau di bawah 1,7. 

Technology High Pressure Acid Leach (HPAL) akan meningkatkan nilai tambah nikel. Nikel kadar rendah yang selama ini terbuang atau tidak terpakai, akan memiliki nilai ekonomis sebagai bahan baku dari pabrik pengolahan dan pemurnian baru ini. Apalagi, cadangan nikel kadar rendah sangat banyak di Indonesia termasuk di Malut.  

Harapannya, industri nikel ini dapat berproduksi sesuai rencana. Selain membantu ekonomi setempat, juga diharapkan ada transfer teknologi dan pengetahuan dari tenaga kerja asing asal China kepada pekerja lokal, khususnya yang berasal dari Maluku Utara. 

Sumber: bisnis.com

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Recent Comments

    Archives

    Categories