Penjelasan BMKG Terkait Penyebab Gempa M 6,8 yang Guncang Morotai Maluku Utara

redaksiindonesiatimur_redaksi | June 17, 2020 | 0 | Nasional

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut ada beberapa gempa susulan di Morotai setelah gempa M 6,8 terjadi pada Kamis (4/6) lalu. BMKG mencatat di hari ini terjadi 5 kali gempa susulan.

“Update hasil monitoring BMKG hingga Minggu pagi, 7 Juni 2020, menunjukkan aktivitas gempa susulan yang terjadi hanya 5 kali. Magnitudo gempa susulan terbesar M 4,8 dan terkecil M 2,9. Gempa susulan terakhir tercatat pada hari Minggu, 7 Juni 2020, pukul 10.58.23 WIB berkekuatan M 3,9,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, dalam keterangan tertulis.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG selama Mei 2020, adanya peningkatan aktivitas seismisitas khususnya untuk aktivitas gempa menengah di kedalaman sekitar 100 km di wilayah Morotai. Sehingga, Daryono menilai wajar jika di zona aktif gempa yang terjadi sebulan sebelumnya, kini terjadi gempa kuat. Ditambah wilayah Morotai bersebelahan dengan zona subduksi lempeng laut Filipina.

“Wilayah Morotai Maluku Utara merupakan salah satu kawasan seismik aktif di Indonesia. Lokasi Pulau Morotai bersebelahan dengan zona subduksi Lempeng Laut Filipina. Di sebelah timur Pulau Halmahera melintas subduksi Lempeng Laut Filipina yang berarah utara-selatan dengan panjang mencapai sekitar 1.200 km, dari Pulau Luzon, Filipina, di Utara hingga Pulau Halmahera di selatan. Zona subduksi aktif ini memiliki laju penunjaman lempeng antara 10 hingga 46 milimeter per tahun,” ujarnya.

Daryono mengatakan Lempeng Laut Filipina berpotensi menjadi sumber gempa dan tsunami karena berada dalam zona megathrust. Wilayah Maluku Utara terutama Halmahera, Morotai, dan Kepulauan Talaud menjadi daerah yang berpotensi terdampak.

“Zona megathrust lempeng laut Filipina adalah ancaman terjadinya bencana gempa dan tsunami yang potensial bagi wilayah Maluku Utara Khususnya Halmahera, Morotai, dan Kepulauan Talaud. Khusus segmen zona megathrust di Pulau Halmahera memiliki magnitudo tertarget M 8,2. Jika aktivitas gempa Kamis lalu berkekuatan M 6,8 maka masih jauh lebih kecil dari magnitudo tertargetnya,” katanya.

Untuk itu, Daryono mengatakan tunjaman lempeng laut Filipina patut untuk diwaspadai dan tidak boleh diabaikan. Ada 6 catatan sejarah gempa kuat dan merusak wilayah-wilayah tersebut.

“Catatan sejarah 6 gempa kuat dan merusak tersebut di atas merupakan bukti bahwa zona megathrust pada tunjaman Lempeng Laut Filipina, khususnya Segmen Halmahera-Talaud menjadi salah satu sumber gempa yang patut diwaspadai dan tidak boleh diabaikan. Tunjaman Lempeng Laut Filipina ini selamanya akan menjadi sumber gempa potensial di wilayah Halmahera, Morotai, dan Kepulauan Talaud,” tuturnya.

Catatan sejarah gempa menunjukkan bahwa di wilayah ini sudah sering kali terjadi gempa kuat dan merusak yang dipicu tunjaman lempeng laut Filipina, yaitu:

1.Gempa merusak Kepulauan Talaud 23 Oktober 1914 (M 7,4).

2.Gempa merusak Halmahera 27 Maret 1949 (M 7,0).

3.Gempa merusak Kepulauan Talaud 24 September 1957 (M 7,2).

4.Gempa merusak Halmahera Utara dan Morotai 8 September 1966 (M 7,7).

5.Gempa merusak Kepulauan Talaud 30 Januari 1969 (M 7,6).

6.Gempa merusak Maluku Utara dan Morotai Morotai pada 26 Mei 2003 (M 7,0).

Sumber: Detik.com

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Recent Comments

    Archives

    Categories